Inovasi dari Ruang Guru: Strategi Safrudin Talib Siapkan Siswa SDN 16 Anggrek Hadapi TKA Matematika
- Rabu, 15 April 2026
- Pendidikan
- Cetak

Sdn16anggrek.my.id – Suasana ruang guru SD Negeri 16 Anggrek pada Selasa (15/04/2026) tampak berbeda dari biasanya. Tidak hanya diisi oleh jajaran pendidik, ruangan tersebut berubah menjadi laboratorium belajar yang interaktif bagi siswa kelas 6. Di bawah bimbingan Safrudin Talib, para siswa tampak antusias duduk melantai, mata mereka tertuju pada layar besar yang memancarkan grafik dan angka-angka dinamis.
Layar tersebut adalah Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID). Karena perangkat canggih ini berada di ruang guru, Safrudin berinisiatif memboyong murid-muridnya keluar dari ruang kelas konvensional demi pengalaman belajar yang lebih visual dan mendalam.
Membedah Matematika dengan Sentuhan Jari
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Para siswa tengah dipersiapkan menghadapi Asesmen Tes Kemampuan Akademik (TKA). Khusus untuk mata pelajaran Matematika, tantangannya tidaklah mudah. Siswa dituntut tidak hanya menghafal rumus, tetapi benar-benar memahami fakta, konsep, prinsip, dan prosedur matematika.
“Dengan Papan Interaktif Digital, konsep matematika yang abstrak bisa divisualisasikan dengan nyata. Siswa bisa melihat langsung bagaimana sebuah prosedur penyelesaian masalah (problem solving) bekerja lewat simulasi interaktif,” ujar Safrudin.
Salah satu siswa, Akmal Nusi, mengaku metode ini membuatnya lebih mudah memahami pelajaran. “Saya jadi lebih cepat mengerti, apalagi kalau melihat grafik langsung di layar. Rasanya seperti bermain, tapi sebenarnya sedang belajar,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan oleh Nur’ain Pakaya. Ia merasa pembelajaran dengan PID membuatnya lebih percaya diri mencoba soal. “Kalau maju ke depan dan sentuh layar, saya jadi berani mencoba. Kalau salah juga bisa langsung diperbaiki bersama,” tuturnya.
Belajar Sambil Lesehan, Konsentrasi Tetap Maksimal
Meskipun harus duduk melantai, suasana belajar justru terasa lebih rileks namun tetap fokus. Penggunaan PID memungkinkan adanya interaksi dua arah; siswa bisa maju dan menyentuh layar untuk mencoba menyelesaikan soal, membuat grafik, atau membedah bangun ruang secara digital.
Metode ini terbukti efektif untuk mengukur sejauh mana kemampuan murid dalam menerapkan pengetahuan matematika mereka untuk menyelesaikan masalah nyata. Integrasi teknologi seperti IFP di tingkat SD diharapkan dapat menghapus stigma bahwa matematika adalah mata pelajaran yang membosankan dan menakutkan.
Inisiatif dari SDN 16 Anggrek ini menunjukkan bahwa keterbatasan ruang bukan penghalang untuk menghadirkan teknologi mutakhir di tengah siswa. Di tangan guru yang kreatif, ruang guru pun bisa disulap menjadi pusat inovasi pembelajaran yang memikat.

Saat ini belum ada komentar